Kabar Politik
Salahuddin Wahid Siap Dicalonkan Jadi Ketua Umum PBNU
Rabu, 7 Oktober 2009 17:01 WIB
Surabaya, (tvOne)
Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ir KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), siap dicalonkan menjadi ketua umum PBNU dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar pada 25-31 Januari 2010. "Kita tunggu saja apa yang akan terjadi dalam muktamar, tetapi siapa pun yang dicalonkan muktamirin (peserta muktamar) ya harus mau," kata mantan salah seorang ketua PBNU 1999-2004 seperti dikutip Antara, Rabu.
Adik kandung Gus Dur itu disebut-sebut sebagai kandidat kuat bersama KH Said Agil Siradj, KH Mustofa Bisri, KH Masdar F Mas`udi, KH Hafidz Utsman, Slamet Effendy Yusuf, Mohammad Nuh, Ulil Absar Abdalla, Jusuf Kalla, dan sebagainya. "Kalau ada yang mendukung dan memenuhi persyaratan, siapa pun harus mau. Kalau nggak mau berarti nggak menghormati orang yang mencalonkan," katanya.
Menurut dia, dirinya merupakan orang yang tidak mempunyai hak suara, termasuk kakaknya Gus Dur juga tidak mempunyai hak itu, karena itu pimpinan cabang se-Indonesia yang akan menentukan.
"Kalau Pak Jusuf Kalla, saya sendiri meragukan, apakah beliau mau, karena saya kira beliau nggak tertarik. Beliau sendiri hanya orang daerah, beliau nggak pernah di PBNU," kata Gus Sholah yang pernah menjabat salah seorang ketua PBNU pada era pertama dari periode kepemimpinan KH Hasyim Muzadi itu.
Secara terpisah, Rais Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar menyatakan PWNU Jatim hingga kini belum membahas pencalonan ketua umum, karena masalah itu akan dibahas menjelang detik-detik akhir penyelenggaraan muktamar.
"Kami hanya membahas usulan program, di antaranya kami berharap PBNU bersikap untuk mengusulkan pencabutan UU Yayasan karena banyak merugikan lembaga pendidikan dan pesantren yang dikelola NU," kata pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu. Selain itu, katanya, PWNU Jatim juga mengusulkan PBNU merumuskan ulang Khittah NU, terutama menyangkut masalah politik praktis.
"Di era multipartai, PWNU Jatim mengusulkan perlunya NU mendukung calon yang merupakan kader NU. Kalau kader NU banyak yang menjadi calon, maka NU secara kelembagaan yang memutuskan, siapa yang harus didukung. Keputusan itu penting agar warga dan ulama NU dapat bersatu dan bukan orang lain yang mengambil manfaat. Lebih baik, NU bersatu, meski kalah, daripada menang, tapi tidak bersatu," katanya.
